Link : http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/2493/Selingkuh_Karena_Reuni.
Demam Facebook Demam Reuni.
Ya, salah satu yang memfasilitasi banyaknya reuni adalah akibat keberadaan jejaring yang bernama Facebook. Teman-teman dari masa lalu, yang dulu tak tahu rimbanya, kini muncul di hadapan kita.
Sebenarnya, pertemuan yang terjadi tidaklah selalu bermakna negatif, mungkin saja terjadi kontak bisnis setelah pertemuan, dan lain-lainnya. Namun, pertemuan itu bisa juga mengandung hal yang negatif, sebagaimana paparan istri saya malam kemarin.
Ketika saya asyik bersantap malam, istri saya ada disamping saya, bercerita tentang kejadian yang didengarnya siang tadi.
Ada salah seorang temannya, yang saat ini sedang dalam proses perceraian. Si teman itu bercerita kalau suaminya adalah laki-laki yang gampang main tangan, dan selain itu -bagian yang lebih menyakitkan-, ia juga suka selingkuh. Tidak hanya sekali, namun yang terakhir ini adalah ketiga kalinya.
Intinya, si suami itu tidak memetik pelajaran apapun dari kesabaran istrinya -teman istri saya- itu. Nah, untuk pasangan selingkuh yang terakhir ini, si suami berpacaran lagi dengan mantan pacarnya, yang bertemu dalam sebuah reuni (you know lah, dengan adanya Facebook, maka ajakan reuni baik dari SD, SMP, SMA atau kuliah, akan semakin gencar).
Dan -cilakanya- mereka berdua adalah bekas pasangan kekasih yang tak sampai duduk di pelaminan. Ibarat pepatah, cinta lama pun bersemi kembali.
Namun, jangan bayangkan si perempuan masih bujangan, TIDAK! ia adalah seorang istri dari seorang laki-laki yang sudah berputra dua. Jadi ia masih tercatat sah sebagai istri orang lain (alias si suami ini, tanaman yang makan pagar orang lain).
Dan begitulah, ketika bisikan hawa nafsu dan tabuh genderang setan mendera pasangan lama ini, kemudian menggiring mereka kepada kisah kasih terlarang! Si suami mulai berbohong kepada istri, ketika berangkat dinas ke luar kota, maka yang seharusnya hanya 3 hari, bisa molor menjadi seminggu. Sisa hari lainnya, dimanfaatkan untuk menjalin cinta dengan bekas pacarnya itu.
Sering pula kemudian ia bertugas ke kota dimana bekas pacar itu tinggal, padahal sebelumnya, kota itu jarang dikunjungi.
Namun, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Seorang kerabatnya, akhirnya menemukan suami ini, tengah berjalan-jalan di mall bersama wanita lain, bukan istri yang dikenalnya. Sampailah laporan itu ke telinga si istri.
Dan demikianlah, bahtera rumah tangga itu pun akhirnya terpaksa kandas. CERAI menjadi kata akhir dari kemelut ini, padahal suami istri ini, juga mempunyai anak, buah dari perkawinan mereka.
Memang, tidak hanya karena reuni saja kemudian kasus semacam ini bisa terjadi, namun menjadi lebih terfasilitasi -dengan adanya Facebook-, sehingga godaan kenangan masa lalu itu pun kembali. Tak sadar bahwa sebenarnya, ia sudah mempunyai tanggung jawab sendiri, akan istri atau suami, dan juga anak-anak buah perkawinan mereka.
Jika kemudian berujung kepada perceraian, tak hanya menyisakan hati yang luka untuk mereka yang sudah cukup umur, namun anak mereka -yang masih seumuran dengan si Sulung saya, Yazid- menderita sebagai akibatnya.
Moral cerita dari postingan ini jika ada di antara pembaca yang terkena demam reuni-reunian, dan acara ini potensial untuk membawa kemudharatan, maka sebaiknya ia menjauhinya. Daripada harus kemudian menanggung resiko yang cukup besar, dengan mengorbankan keluarga yang selama ini sudah dipunyainya, ditukar dengan sesuatu yang belum tentu sempurna, hasil bisikan hawa nafsu dan perangkap setan.
Nikmat yang sesaat, namun sakit yang berkepanjangan, siapa yang akan suka???
--postingan ini juga untuk mengingatkan yang membuat postingan kok...--
