Libur 3 hari ...kesempatan untuk menata yg tidak tertata
sambil menikmati sarapan pagi,
secangkir kopi tubruk mengepul di depanku
di TV, sebentar lagi pak presiden memimpin upacara di istana
seteguk pertama kopiku ... ah ! pahit !
belum di aduk rupanya, dengan sedikit tergesa kuaduk kopiku
putar...putar...putar ....dan ......
ups !... tumpah sebagian ....berceceran dia meja lagi
seperti tercekat aku menatap ceceran kopi
mungkin ini jawabnya ...
butiran ampas kopi tubrukku yg mulai mengendap di cangkir
tidak akan larut dalam air
bahkan yg tercecer di meja sekalipun
karena dia bukan kopi instant
butiran kopi yang kasar akan tetap jadi butiran ampas kopi
karena air tak mampu melarutkannya

kalaulah aku bisa aku menikmati secangkir kopi tubruk yang nikmat
itu tidak lebih dari paduan serbuk halus kopi yang larut, dibubuhi sedikit gula dan air untuk seduhan
buat apa aku membuang secangkir kopi nikmat hanya demi untuk merasai ampas kopi yg mangendap ?
malahan bila ada butiran yg ikut terhirup, serta merta aku membuangnya
chemistry kita seperti menyatu ? apa bedanya dengan aroma secangkir kopi tubruk ?
iya.... betul ...seperti yang sedang kunikmati pagi ini ?
cintaku, sayangku, matahariku ....

putaran hidup yang terlalu cepat telah mengangkat aku ke permukaan
menghempaskan aku pada tatanan yang asing
seperti gumpalan marahmu di masa lalu
yang terpuaskan oleh terkuburnya satu kisah hari ini
tidak ada yang perlu dipertanyakan
ketika saatnya kita mengendap
(mustinya) tinggal kewajaran yang ada
yang bagiku baik, nyatanya terlarang untuk mereka
dan yang terlarang bagiku, nyatanya yang terbaik untuk mereka
haruskah ada satu yang dipertahankan ?
kuhapus bekas ceceran kopi di meja yg mulai mengering
lalu beranjak ...
selintas terbaca olehku
memang tidak pernah melarut ....
