Pagi, aku baru pulang dari "Nyontreng 2009". Bikin sarapan, sambil ny'ruput kopi, aku mulai periksa2 email. Ada email dari mantan direktur-ku, yeaah ... biasa, email terbuka untuk support mantan staff-2nya deh (thanks a lot meneer). Aku baca2 ada bagian yg menarik, beliau tulis begini :
Jelas "bhw Allah pun tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yg mengubahnya" ini bermakna bahwa ketika kita berdoa mohon diberkahi, seharusnya pada saat yg sama kita jg berkomitmen bhw kita akan berjuang. Bukan hanya minta lalu berupaya sekedarnya saja. Ini jelas perilaku yg tidak patut. Jika kita mau mengubah nasib (apalagi kita sering inginnya bukan sekedar cukupan), tapi yg kita lakukan lebih banyak menunggu, lalu siapa yg kerja? Bagaimana mungkin Allah yg kita suruh bersusah payah sedangkan kita hanya mau minta lalu trima hasilnya saja ?"
Sejenak melintas dibenakku, salah satu teman deketku, yang (katanya) sedang dilanda musibah, dia bilang begini, "SEKUAT2NYA KITA BERUSAHA, TAPI TUHAN YG MENENTUKAN", sekarang aku lagi DIUJI.
Aku tanya apa sih masalahnya ?
Panjang lebar dia mulai cerita tentang masalahnya. Tapi dari awal sampe akhir cerita aku sama sekali ga liat mana sih yg dia bilang "sekuat2nya berusaha" ? Beberapa kali kukonfirmasi ttg kisahnya itu, tetep aja lempeeeng ....kayak jalan tol. Yang ada malahan, diawal kisah keadaan ga terlalu parah, dan di akhir kisah keadaan semakin runyam.
Terheran2 aku jadinya. Bagaimana mungkin bisa ngomong udah berusaha lha wong bergerakpun tidak. Sedikit geregetan kubilang, kertas ujianmu masih bersih, permukaanya aja masih kosong, ga ada segarispun coretan bahwa kamu sudah mencoba menjawab soal2 ujian-mu.
How come ?
Bagaimana Tuhan mo kasih ama kita kalo kita sendiri ga berusaha ? Hanya tinggal duduk manis, sim salabim, terima bersih hasilnya ? Jangan mimpi.
Kebetulan aku tau betul temenku emang jago urusan cuap2, tapi urusan prakteknya..NOL BESAR ! (apa bedanya ama burung beo di rumah bapakku ? ..he he..)
Apa yg terjadi pada temenku itu bikin question mark yg guede di kepalaku , kenapa ada orang yg begitu braninya pinjem2 nama Tuhan utk menutupi kemalasan-nya, keengganan-nya, keraguan-nya, ketakutan, ketidak-mampuan-nya, dsb.
Intinya, kalo memang baru liat tantangan aja udah "keder".. mbok ya jangan sembarangan pinjem nama Tuhan, seolah2 Tuhan itu jahat ama kita.
Dengan sedikit menyindir kusarankan, kalo MAU-nya :
- lari-lari di alam bebas yg asri, tapi kalau takut tersesat, tidur saja diatas kasur yg empuk.
- berenang di pantai yg indah, tapi kalau takut disapu ombak, sebaiknya berendam di jacuzzy saja.
- jalan-jalan di langit yg paling tinggi, tapi kalau takut jatuh ke dasar bumi, sebaiknya jalan kaki saja di halaman rumah.
- bla, bla, bla... dan seribu keinginan, adalah ketakutan paling mengerikan sepanjang nasib dibentangkan hingga umur disudahi.
- Apa jaman sudah begitu bergesernya sehingga ada org lebih memilih berkubang ditempat comberan daripada harus keluar dari sana, membersihkan diri dan siap melangkah menuju yg lebih baik, yang lebih bersih ?
- Apa memang jaman ini sudah semakin sesat dan susah sehingga orang makin enggan keluar dari kepompongnya, berjuang utk menjadikan hidupnya lebih baik ?
- Apa sudah terlalu dalam keterprukan seseorang sehingga untuk keluar dari lubangnya dia sudah ga punya lagi kegigihan ?
Belum pernah mulai berusaha, sudah bilang capek.
Belum pernah mencoba melangkah, sudah bilang sulit.
Belum pernah berikhtiar, udah ngomong tawakal.
Heii... pelajaran dari mana itu ? Allah-pun ga pernah mengajarkan seperti itu.
Apa begitu tipis-nya keimanan seseorang sehingga tidak ada lagi merasa harus takut untuk mencuri nama Tuhan dan bersembunyi di baliknya
Sedikit miris aku mencoba "mengingkari" alur yg melintas di kepalaku. Kalo berusaha saja enggan, perlu di tanyakan niatnya ? Kalo niatnya aja ga ada ...perlu diperiksa apa tujuan-nya memang ada ? Kalo tujuannya ga ada ...bisa jadi perubahan itu memang tidak pernah diharapkan ada. Kalo suda begitu ya memang bener juga, untuk melangkah, untuk berusaha maksimal, dsb tidak lagi diperlukan
Lalu kenapa berani2nya pinjem nama Tuhan ? ...
Kesulitan, musibah, masalah, yg bertumpuk2 apabila tidak disikapi dengan positif, tawakal, ketebalan iman, bisa saja akan menggerus fondasi keimanan kepada Allah SWT. Bahkan mempersalahkan Tuhan akan ujiannya-pun ga ada ragu-2nya lagi ... ( astaghfirullah aladziim ... )
Sekarang, dalam doaku ada satu lagi yg selalu aku sisipkan, "semoga aku bukan tergolong dan jangan pernah tergolong dalam orang-2 yang meminjam nama-MU utk alibi ketidak mampuan-ku, karena aku yakin Engkau senantiasa beserta aku, membimbing aku, mengingatkan aku, menguatkan aku, dan menghindarkan aku dari ketersesatan ... Amin"
Surabaya, 8 Juli 2009
untuk "sahabat" terbaikku yg sedang "ujian"
(semoga segera mendapatkan cahaya yg akan membimbingmu keluar dari gelapnya hati)
