Apa kabar pintu pagarku, masih tetap dengan ulahmu ? suka macet grendelnya. Padahal aku rindu derit suaramu saat bergeser. Halo taman kecilku, apa kabar ? Masih tetap cantik kalian.
Sebentar, ada suara ribut di samping rumah, biar ku tengok dulu. Bergegas aku menyusuri jalan setapak berbatu yg kutata menuju samping rumah.
Aduh ! hampir saja kakiku terkilir. Ahaa, kalian mulai berlumut rupanya. Baiklah ku lepas sepatuku dulu. Bukankah kalian merindukan kaki telanjangku ? Gelitikilah semaumu. Ini aku, milikmu, masih seperti yang dulu. Tak ada yg berubah. Ha ha ha rasanya lembab, basah, geli...cukup...cukup... kita bercanda lagi nanti, aku harus segera ke samping rumah memeriksa keributan disana.
Dari sudut teras kuamati, pantas saja ribut sekali, rumput alang2 itu sudah tinggi. "Hei alang2 ! pasti kau merebut jatah makan rumput bogelku." Hmm..tunggu saja, sebentar lagi kau yang akan jadi santapan si Emoo. Yaa..ya..yaa semua memang butuh makan. Ok siapkan argumen kalian, tapi biarkan aku meredakan penatku dulu di dalam rumah.
Setengah berlari aku kembali ke halaman depan. Dengan beberapa kali lompatan aku menaiki tangga teras, masih cukup kuat menahan hentakan kakiku rupanya. Baguslah.
Kubuka pintu utama, aku melangkah memasuki ruang tamu - yg selalu teduh, tenang & anggun - serasa seperti melangkah menuju altar, tempat paling kuimpikan untuk berdiri berdampingan denganmu. Alaaa...kutepis bayangan itu, terlalu sempurna untuk kita.
Aroma lembab mulai merebak. Hidungku memang sensitif. Beberapa kali aku terbersin2 sambil terus melangkah ke pintu kamarku. Ah ...pintu itu yg selalu ramah menjanjikan kedamaian padaku. Baik, inilah aku, rengkuhlah aku. Aku melangkah dgn tak lagi sabar.
Aku rindu derak kayu lantai rumah ini saat aku menapakinya, aku merindukan kursi goyangku yg nyaman, aku merindukan tempat tidurku yang selalu hangat.
Dengan sekali lompatan aku terbenam dalam kasur bulu angsaku yg telah serta merta merengkuhku dengan eratnya. Uuuhhh...pelukanmu tetap lebih nyaman darinya. Sejenak badanku menegang, tidak..tidak...aku tidak mau bayangan itu melintas lagi... Kau tidak ada dalam daftar barang bawaanku.
Mataku mulai berat. Oh! barang2 bawaanku ! Aku masih meninggalkan koporku di teras. Dengan sedikit malas aku beranjak bangun. Kubuka
Lama aku tergugu memandang ke teras, baru sadar bukan hanya koperku yg disitu, tapi juga sekuntum janji yg nyaris layu.
Biar kutanam di taman kecilku,
Agar bisa kujaga setiap hari
seperti aku menjaga taman kecilku.
Biar dia tumbuh cantik disitu.
Agar bila suatu saat kau melintas,
kau bisa saksikan
betapa aku menjaga dan merawat janjiku.
Ya ya ya, aku memang harus mulai membiasakan
hari-hariku tanpamu
[ ketika luka tidak lagi harus dibalut dgn berpedih-2 ]
